Kamis, 30 Oktober 2014

Kecerdasan Emosional (EQ) Anak

0 komentar
Banyak manusia yang dikaruniai kecerdasan hebat. Sayangnya, tak sedikit juga orang-orang yang memiliki kecerdasan inteligensi tapi tidak diimbangi dengan kecerdasan emosinya. Seperti sosok Adolf Hitler yang konon seorang jenius, tapi kejeniusannya itu ternyata malah menjadi bencana bagi kemanusiaan. Secara sederhana bisa disebut bahwa Hitler adalah seorang yang jenius tanpa memiliki kecerdasan emosi, sehingga apa yang dilakukan Hitler hingga saat ini dikenang oleh banyak orang sebagai suatu kejahatan.

Kecerdasan emosi (emotional quotient/EQ) adalah suatu term untuk menjelaskan kemampuan seseorang dalam mengenal dan mengelola emosinya. Begitu dahsyatnya EQ sehingga bisa membolak-balik warna dunia. Kecerdasan emosi bisa diasah, dan yang paling berperan dalam mengasahnya adalah Ibu. Karena, kecerdasan emosi telah terlatih sejak janin masih berada dalam kandungan. Ibu hamil yang menjalani masa kehamilannya dengan tenang akan membuat emosinya terkontrol, dan akhirnya akan melahirkan anak dengan emosi yang lebih stabil/tenang. Ibu memiliki peran yang dominan dalam pengasuhan anak, meski peran ayah juga begitu penting. Saat menyusui, merawat, dan mengasuh anak Ibu dapat mengenalkan berbagai emosi.

Sehingga anak dapat melihat, bagaimana Ibunya berekspresi dan merespons emosi yang datang dari lingkungan. Seorang Ibu dapat membantu anak mengenali dan menerima emosi anak. Seperti sedih, atau kecewa adalah hal yang wajar dialami saat orang tidak mendapatkan keinginannya. Salah satu cara adalah mengakui anak merasakan emosi tertentu pada saat itu. Dengan diakui emosinya, anak akan lebih tenang dan kemudian, Ibu dapat masuk dengan saran-sarannya. Ibu juga dapat membantu anak untuk menyalurkan emosi dengan cara yang konstruktif. Misalnya, dengan berolahraga atau menulis untuk menghilangkan kekesalan, atau memberi reward saat berhasil mencapai sesuatu. Orangtua juga harus lebih melatih anak untuk lebih asertif dalam mengemukakan emosinya. Kecerdasan emosi yang rendah dapat menghambat keberhasilan anak.

Anak dengan tingkat EQ rendah terlihat dari kecenderungannya menyalahkan orang lain ketika mengalami kegagalan atau situasi sulit yang tak diharapkan, susah menerima masukan dan kritik dari orang lain, mudah tersinggung jika pendapatnya dipatahkan, tidak mau kalah atau mengakui bahwa orang lain lebih baik daripadanya, tidak sportif, tidak percaya diri, dan bisa jadi sulit memotivasi diri untuk bangkit kembali dan berprestasi setelah kalah berkompetisi. Rendahnya pengelolaan emosi juga dapat membentuk sifat drama queen atau kecenderungan mendramatisasi ekspresi emosi dalam diri. Dimana, masalah sepele harus dibesar-besarkan hingga menarik perhatian. Anak yang kurang mampu mengelola emosinya, maka proses bersosialisasinya pun akan menghadapi kendala dan cenderung sulit untuk membentuk hubungan interpersonal yang memuaskan. Serta sulit menyelesaikan tugas bila emosinya sedang memuncak atau butuh waktu relatif lama untuk kembali tenang. Anak dengan kecerdasan emosi yang kurang dianggap sebagai anak yang sensitif/perasa atau sebaliknya kurang peka. Jika kesensitifan atau kurang pekanya mulai menimbulkan masalah dalam berhubungan dengan lingkungan, maka perlu segera ditangani.

Penanganan dapat dilakukan dengan cara memfasilitasi anak agar memahami emosinya. Sebaiknya anak diberi pengertian bahwa emosi negatif, seperti marah dan sedih bisa dialami semua orang. Namun, emosi tersebut seharusnya tidak diumbar secara berlebihan. Pengungkapan emosi yang berlebihan mungkin pada awalnya akan menarik simpati orang lain, tapi jika hal itu sering dilakukan, bukan tidak mungkin jika orang lain akan merasa tidak nyaman berinteraksi dengannya. Dalam hal ini, Ibu harus bisa menjadi sosok terdepan dalam menempa kecerdasan emosi anak.

Dengan memiliki EQ anak bisa mengontrol emosinya dengan baik, dan bisa konsentrasi penuh saat belajar walau dirinya sedang dalam masalah. Selain itu, ia bisa menempatkan diri dengan pas dalam berbagai situasi dan kondisi, juga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sedang dihadapinya. EQ juga penting dalam menunjang pergaulan anak sehari-hari, baik dengan orang tua, saudara kandung, teman, atau gurunya. Kecerdasan emosi merupakan kunci kesuksesan seseorang, meski memiliki IQ biasa saja, orang akan nyaman berinteraski dan bekerjasama dengan orang yang memiliki EQ yang baik. Itulah yang membuat seseorang dengan EQ tinggi bisa sukses mengarungi kehidupan berkat jaring pertemanan yang luas atau penerimaan yang tinggi oleh lingkungan. Semua itu karena pengelolaan emosi yang baik. Emosi membantu manusia mengelola kondisi internal dan eksternal diri seseorang. Jika anak senang karena berhasil melakukan sesuatu, maka akan memacunya untuk selalu mengukir prestasi. Jika suatu saat anak mengalami kegagalan, ia tidak akan berlama-lama meratapi kegagalannya dan mampu segera bangkit kembali.

Kecerdasan emosional (EQ) mengenal lima aspek, dimana antara satu aspek dengan aspek lainnya saling berhubungan. Dimulai dari kemampuan mengenali emosi diri sendiri, kemampuan mengolah dan mengekspresikan emosi dengan tepat, kemampuan memotivasi diri sendiri, kemampuan mengenali emosi orang lain, dan kemampuan membina hubungan dengan orang lain. Untuk bisa menguasai kemampuan mengenal emosi orang lain, anak harus terlebih dulu memiliki kemampuan mengenali emosi dan mengolah emosi sendiri, selain juga sudah memiliki kemampuan memotivasi diri sendiri.
EQ yang baik merupakan kunci sukses anak saat bersosialisasi. Jadi, kenali dan ketahui cara menstimulasi EQ di setiap tahapan usia. Dengan begitu, kecerdasan emosi anak bisa maksimal.

1. BAYI
Bayi baru sebatas mampu melakukan sesuatu yang didapatnya dari proses imitasi, ekspresi dasar seperti senyum sosial. Bayi yang sedikit-sedikit menangis menandakan bahwa EQ-y baik. Justru apabila bayi buang air kecil tanpa menangis, perlu dipertanyakan. Itu salah satu ciri si bayi belum mendapatkan stimulasi tentang emosi. Bayi mengenal dirinya sendiri dengan cara bagaimana orang tua dan pengasuhnya memperlakukannya. Apa yang dilakukan orang sekitar dipelajari sebagai pesan bagi dirinya. Karena itu, peluk, cium, dan kata-kata penuh kasih sayang harus terus dilakukan. Jangan lupa untuk mengenalkan aneka ekspresi emosi kepada bayi. Bayi harus sudah dikenalkan dengan ketekunan, sebuah modal awal untuk kemampuan memotivasi diri. Misal, seorang bayi yang sedang belajar jalan, diharapkan orang tua tidak berhenti memberi motivasi hingga si kecil berhasil berjalan. Agar kemampuan sosialisasinya berkembang orang tua bisa mengajak bayi berjalan-jalan bertemu dengan banyak orang atau teman-teman sesama bayi.

2. BATITA
Di rentang usia 1-3 tahun, anak mulai bersosialisasi, mulai diajarkan mana yang boleh dan tidak boleh. Jadi, setiap kali ekspresi emosi orang tua muncul seperti marah, senang, kesal, dan sebagainya, harus diutarakan alasannya kepada anak. Begitu pula saat anak mengeluarkan ekspresinya, berikan feedback kepadanya. Dengan begitu, anak bisa mengenali dirinya, mengolah, serta mengekspresikan emosinya dengan baik. Anak juga perlu diajarkan mengendalikan emosinya. Misalnya, saat anak ngambek karena tidak diperbolehkan makan permen, anak boleh protes atau menangis namun tidak boleh berlebihan seperti berteriak atau memukul Ibunya. Alangkah baiknya jika ibu mendekap anak dan menenangkannya, dan beri penjelasan sederhana tentang larangan tersebut. Sehingga anak bisa menjaga emosinya agar tidak meledak-ledak saat sedang resah atau menghadapi kesulitan.
Di usia ini anak sudah mengenal istilah bermain. Orang tua bisa memanfaatkannya untuk mengenali emosi anak dengan bermain pura-pura, membuat beraneka bentuk wajah emosi, membaca buku yang mengandung nilai moral bersama atau bermain berkelompok.Asah juga kemampuan sosialisasinya dengan mengajak anak bermain bersama anak-anak seusianya. Di usia ini anak masih egosentris, namun dengan melibatkan anak-anak lain bisa mengasah kemampuannya dalam berteman.

3. PRASEKOLAH
Pada tahap ini anak sudah berempati atau kemampuan mengenali emosi orang lain. Orang tua maupun guru sudah waktunya untuk mengajarkan berbagi, antri, atau menunggu giliran. Oleh sebab itu, orang tua maupun guru harus pandai-pandai memberikan stimulasi dan feedback pada anak, khususnya saat anak sedang menghadapi konflik. Contoh, saat anak merebut mainan dengan temannya. Orang tua harus bisa memberikan pandangan bahwa yang namanya menyelak itu tidak baik, karena diselak itu tidak enak, serta minta anak untuk bisa bergiliran. Kunci berempati ialah kemampuan membaca pesan non verbal, seperti nada bicara, gerak-gerik, ekspresi wajah, dan lain-lain. Untuk mengasah hal ini, orang tua harus ekspresif di depan anak, tanpa lupa menjelaskan arti dari ekspresi emosi tersebut. Ajarkan pula anak untuk mengelola emosinya. Salah satunya dengan diarahkan pada kegiatan seperti menggambar. Biasanya menggambar efektif sebagai media katarsis atau media untuk meluapkan perasaan ketika sedang gelisah. Selain itu, ajari anak untuk bisa melakukan relaksasi ketika ia sedang marah. Orang tua bisa mengusap-usap punggung anak agar tenang. Tingkatkan juga kemampuan sosialisasi dan interaksi anak. Dengan interaksi tersebut, anak tahu emosi yang dimiliki dirinya juga orang lain. Biasakan anak untuk bermain dan berbaur dengan anak-anak sebayanya. Undanglah teman-temannya ke rumah, buatlah aktivitas berkelompok seperti bermain peran bersama atau sekadar bermain bola.

4. SEKOLAH
Anak sudah bisa berpikir abstrak dan bisa memahami hubungan sebab akibat. Mereka juga lebih banyak mengikuti teman sejatinya atau peer group, karena rasa kebersamaannya cukup kuat. Anak biasanya akan cenderung mengikuti apa yang dikatakan atau diinginkan temannya dibandingkan dengan yang diharapkan orang tuanya, sehingga secara emosional mereka lebih mudah menunjukan respons secara aktual jika menghadapi masalah. Untuk mengajari emosinya, orang tua perlu berperan sebagai ”sahabat” atau ”teman” yang bisa mendengarkan permasalahannya. Kenali emosi anak dan identifikasi sumber masalah secara bersama-sama, lalu diskusikan kemungkinan jalan keluar yang tepat.
Latihan-latihan body awareness seperti yoga for kids, hingga teater, drama, musik, semua itu sangat baik karena anak belajar dan akan mengenal emosinya, mengekspresikan emosi, mengendalikan emosinya, bahkan mengenal emosi orang lain. Selain itu, kemampuan bicara anak usia ini sudah berkembang sangat baik dan kompleks seperti orang dewasa. Jadi, tingkatkan kualitas komunikasi dengan anak lewat private time sebelum tidur. Lakukan selama 10-15 menit mengenai apa saja yang ia rasakan selama aktivitasnya seharian, berikan feed back positif pada hal-hal yang ia rasakan. Jika perlu mulailah dari diri sendiri untuk memancing anak agar mengungkapkan apa yang ia rasakan.

Manfaat Bermain Bagi Anak

0 komentar
Bermain mempunyai manfaat yang besar bagi perkembangan anak. Bermain merupakan pengalaman belajar yang sangat berguna untuk anak, misalnya saja anak memperoleh pengalaman dalam membina hubungan dengan sesama teman, menambah perbendaharaan kata, menyalurkan perasaan-perasaan tertekan, dan sebagainya. Dibawah ini diuraikan berbagai manfaat dari bermain, yaitu :
Manfaat bermain untuk perkembangan aspek fisik
Bila anak mendapat kesempatan untuk melakukan kegiatan yang banyak melibatkan gerakan-gerakan tubuh, akan membuat tubuh anak menjadi sehat. Otot-otot tubuh akan tumbuh dan menjadi kuat. Anak juga dapat menyalurkan tenaga (energi) yang berlebihan sehingga ia tidak merasa gelisah. Salah satu contoh kegiatan bermain yang menunjang kekuatan otot tubuh serta perkembangan motorik kasar antara lain memanjat, meluncur, dan meniti. Rasa percaya diri anak juga bisa ditumbuhkan dalam bermain karena merasa mampu untuk melakukan gerakan-gerakan tersebut.
Manfaat bermain untuk perkembangan aspek motorik kasar dan motorik halus
Pada usia tiga bulan, bayi mulai belajar untuk meraih mainan yang ada di tempat tidurnya, untuk mendapatkan mainan tersebut bayi perlu belajar mengkoordinasikan (menyelaraskan) gerakan mata dengan tangan, hingga bayi bisa menggenggam mainan tersebut. Hal tersebut bisa dikatakan sebagai kegiatan bermain yang bermanfaat untuk melatih gerakan motorik kasar pada bayi. Usia sekitar satu tahun, anak senang memainkan pensil untuk membuat coret-coretan. Secara tidak langsung anak telah belajar melakukan gerakan-gerakan motorik halus yang diperlukan dalam menulis. Aspek motorik kasar juga dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain lainnya. Seperti, lari kejar-kejaran untuk menangkap temannya ataupun melompat.
Manfaat bermain untuk perkembangan aspek sosial
Melalui bermain anak belajar untuk berinteraksi dengan teman sebayanya. Anak akan belajar berbagi hak milik, menggunakan mainan secara bergilir, melakukan kegiatan bersama, mempertahankan hubungan yang sudah terbina, mencari pemecahan masalah yang dihadapi dengan teman mainnya. Anak juga belajar berkomunikasi dengan sesama teman, baik dalam hal mengemukakan isi pikiran maupun perasaannya. Bermain juga sebagai media bagi anak untuk mempelajari budaya setempat, peran-peran sosial dan peran jenis kelamin yang berlangsung dalam masyarakat. Dari sini anak akan belajar tentang sistem nilai, kebiasaan-kebiasaan, dan standar moral yang dianut oleh masyarakat.
Manfaat bermain untuk perkembangan aspek emosi atau kepribadian
Melalui bermain, anak dapat melepaskan ketegangan yang dialaminya sekaligus dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan dari dalam diri yang tidak mungkin terpuaskan dalam kehidupan nyata. Saat anak bermain dengan sekelompok teman, anak akan mempunyai penilaian terhadap dirinya tentang kelebihan maupun kekurangan yang ia miliki sehingga dapat membantu pembentukan konsep diri yang positif, mempunyai rasa percaya diri dan harga diri karena ia merasa mempunyai kompetensi tertentu. Anak juga belajar bagaimana harus bersikap dan bertingkah laku agar dapat bekerjasama dengan teman-temannya, bersikap jujur, murah hati, tulus, dan sebagainya.
Manfaat bermain untuk perkembangan aspek kognisi
Aspek kognisi diartikan sebagai pengetahuan yang luas, daya nalar, kreativitas (daya cipta), kemampuan berbahasa, serta daya ingat. Pada usia prasekolah anak diharapkan menguasai berbagai konsep seperti warna, ukuran, bentuk, arah, besaran sebagai landasan untuk belajar menulis, bahasa, matematika, dan ilmu pengetahuan lain. Konsep-konsep ini jauh lebih mudah diperoleh melalui kegiatan bermain. Karena anak usia prasekolah mempunyai tingkat perhatian yang masih terbatas. Misalnya, untuk memperkenalkan warna dan ukuran bisa dengan bermain menyusun balok. Anak juga bisa belajar bermacam-macam hal melalui cerita yang ia dengar, buku-buku, menonton TV, menjelajahi lingkungan sekitarnya sehingga hal-hal yang tidak didapat di rumah atau di sekolah bisa dipenuhi dengan pengalaman yang ia peroleh dari lingkungan. Kreativitas dapat dikembangkan melalui percobaan serta pengalaman yang ia peroleh selama bermain.
Manfaat bermain untuk mengasah ketajaman penginderaan
Penginderaan menyangkut penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan perabaan. Kelima aspek penginderaan ini perlu diasah agar anak menjadi lebih tanggap atau peka terhadap hal-hal yang berlangsung di sekitarnya. Menjadikan anak yang aktif, kritis, kreatif, dan bukan sebagai anak yang acuh tak acuh, pasif, tidak tanggap, tidak mau tahu terhadap kejadian-kejadian di sekitarnya.
Ketajaman atau kepekaan penglihatan dan pendengaran pada anak prasekolah sangat perlu dikembangkan, agar anak lebih mudah belajar mengenal dan mengingat bentuk-bentuk atau kata-kata tertentu yang akhirnya memudahkan anak untuk belajar membaca dan menulis. Kepekaan penglihatan dan pendengaran anak dapat diasah melalui bermain. Misalnya, untuk bayi, permainan kerincingan atau music box. Bayi dapat mengenali berbagai bentuk dan warna serta mendengar berbagai macam suara yang ditimbulkan dari permainan tersebut. Pada usia yang lebih besar, suruhlah anak mendengarkan suara-suara klakson mobil lain yang berbeda dari mobil ayahnya, suara cicak, burung ataupun detik jarum jam. Selain itu, membacakan cerita, mengajak berbicara, mendengarkan lagu akan membuat anak belajar memperhatikan dan mengingat.
Manfaat bermain untuk mengembangkan keterampilan olahraga dan menari
Sebelumnya telah dikemukakan tentang manfaat bermain untuk perkembangan aspek fisik serta perkembangan motorik kasar dan motorik halus. Kedua aspek tersebut penting sebagai dasar untuk mengembangkan keterampilan dalam bidang olahraga dan menari.
Bila seorang anak tubuhnya sehat, kuat, dan cekatan dalam berlari, meniti, bergelantungan, melompat, menendang, melempar serta menangkap bola, maka ia siap menekuni bidang olahraga tertentu pada usia lebih besar. Begitu pula, dengan menari. Untuk menari, diperlukan gerakan-gerakan tubuh yang cekatan, lentur, tidak canggung, yakin pada apa yang dilakukan, sehingga bisa menari tanpa merasa takut. Pada anak usia prasekolah, tidak dapat dituntut untuk melakukan gerakan-gerakan olahraga dan menari dengan sempurna. Yang penting adalah anak menyukai dan senang melakukan kegiatan tersebut yang nantinya dapat dikembangkan sesuai dengan minat dan bakat anak.

Pemulihan Trauma

0 komentar
Istilah ’trauma’ secara umum banyak digunakan dalam bidang kedokteran untuk menggambarkan luka akibat suatu benturan. Sederhananya, trauma merupakan luka yang sangat menyakitkan atau dapat juga dikatakan sebagai suatu kekagetan (shock). Dalam psikologi, trauma merupakan suatu pengalaman mental yang luar biasa menyakitkan karena melampaui batas kemampuan seseorang untuk menanggungnya. Trauma bersumber pada pengalaman traumatik. Secara umum, pengalaman traumatik memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Terjadi di luar kendali seseorang atau masyarakat yang mengalaminya.
2. Mengancam kehidupan karena dapat menyebabkan kehilangan nyawa atau luka fisik yang parah pada orang yang mengalaminya.
3. Mengakibatkan rasa takut yang mendalam, tidak berdaya dan teror pada orang yang mengalaminya.
Pengalaman traumatik dapat terjadi secara berkepanjangan dan berulang-ulang dalam kehidupan. Umumnya, trauma yang dirasakan seseorang mengakibatkan perubahan drastis dalam kehidupannya yang kemudian berdampak pada kehidupan dalam masyarakat. Selain itu, pengalaman traumatik dapat merubah cara pandang seseorang terhadap kehidupannya, merubah kehidupan emosi seseorang, merubah kondisi kesehatan fisik, dan merubah perilaku keseharian seseorang.
Trauma dapat dikenali berdasarkan reaksi yang dimunculkan seseorang, dimana reaksi trauma sama seperti reaksi stres. Secara umum, saat seseorang mengalami trauma apapun peristiwa yang melatarbelakanginya (pemerkosaan, penganiyaan, bencana alam, ataupun konflik antar kelompok) reaksi yang muncul dapat dikelompokkan menjadi tiga hal, yaitu:
  1. Ingatan yang mengganggu
Seseorang sulit melepaskan atau menghapuskan rekaman peristiwa yang dialaminya dalam ingatan. Seseorang seringkali merasakan seolah-olah peristiwa traumatis yang dialaminya terjadi kembali. Akibatnya, seseorang mudah bangun dimalam hari karena mimpi buruk.
  1. Selalu menghindar
Ketika berhadapan dengan suatu benda atau suasana yang serupa dengan benda atau suasana yang dialaminya saat peristiwa traumatis terjadi, maka orang tersebut akan menghindarinya. Minat dalam berhubungan dengan orang lain dan melakukan kegiatan yang menyenangkan bersama dengan orang lain pun berangsur-angsur hilang.
  1. Munculnya gangguan fisik
Secara fisik terdapat perbedaan antara sebelum peristiwa traumatik terjadi dengan sesudah peristiwa terjadi. Seseorang akan sulit untuk menghabiskan waktu untuk beristirahat/tidur sehingga seseorang mudah lelah, serta suka merasakan nyeri otot. Selain itu, seseorang yang trauma juga menunjukan peningkatan kewaspadaan.
Ketiga jenis reaksi tersebut bisa berdampak negatif terhadap aktivitas atau interaksi sosial seseorang sehari-hari atau dengan perkataan lain fungsi sosial seseorang terganggu. Perlu diingat bahwa setiap reaksi seseorang yang mengalami peristiwa traumatik merupakan reaksi yang wajar ketika orang tersebut menghadapi peristiwa atau pengalaman yang tidak wajar. Pemahaman ini penting, agar tiap orang yang mengalami reaksi trauma tidak menilai diri secara negatif dan berlebihan karena reaksi yang dialaminya.
Dengan berlalunya waktu dan adanya dukungan atau bantuan yang tepat pada penderita trauma, maka reaksi-reaksi negatif tersebut akan berangsur-angsur menghilang dan seseorang tersebut dapat menjalani kehidupannya kembali meskipun tidak sama dengan kehidupannya sebelum peristiwa traumatik terjadi.

Pemulihan trauma
Hasil dari usaha mengatasi trauma adalah pemulihan. Dalam proses pemulihan membutuhkan waktu yang lamanya berbeda antara penderita yang satu dengan yang lainnya. Ada ahli yang menganggap bahwa proses pemulihan trauma digambarkan seperti sebagai suatu dinamika, yang tidak kaku dengan tahap-tahap, memungkinkan terjadinya kemajuan yang berarti maupun kemunduran dalam proses pemulihan trauma. Berikut adalah bentuk dari penanganan/bantuan atau respon seseorang yang dapat mempercepat proses pemulihan, diantaranya :
  1. Situasi yang aman dan nyaman di sekitar seseorang yang mengalami trauma
Mereka yang trauma perlu mendapatkan kepastian bahwa keadaan lingkungan sekitarnya sudah berangsur-angsur normal agar mereka sadar bahwa situasi sekitar tidak lagi dianggap mengancam atau membahayakannya.
  1. Dukungan sosial dari tokoh yang bermakna disekitar seseorang
Perasaan bahwa dirinya di’temani’, akan membuat seseorang yang trauma dapat terus bergerak ke arah penerimaan terhadap kenyataan pahit yang terjadi.
  1. Adanya perasaan kebersamaan
Seseorang yang trauma harus memahami bahwa ia tidak mengalami peristiwa traumatik ini sendirian. Contoh, pada masyarakat Aceh yang mengalami peristiwa bencana tsunami. Perasaan kebersamaan ini menimbulkan kesadaran bahwa pentingnya bangkit dari trauma yang dialami untuk saling membantu dan bersama-sama membangun kembali kehidupan.
  1. Adanya bantuan untuk proses pemulihan
Ketika seseorang merasa tidak berdaya dan tidak dapat melakukan sesuatu untuk keluar dari trauma yang dialami, campur tangan dari orang yang tepat dapat mempercepat proses pemulihan.
Sedangkan, sesuatu yang dapat menghambat atau memundurkan proses pemulihan, antara lain :
1. Penolakan lingkungan
Seseorang yang trauma dianggap membebani lingkungannya karena keterbatasan pemahaman lingkungan bahwa reaksi pada seseorang yang trauma merupakan sesuatu yang wajar terhadap pengalaman yang tidak wajar.
2. Perasaan negatif (seperti: rasa bersalah, kemarahan, tidak berdaya)
Berbagai perasaan negatif ini merupakan sesuatu yang wajar dialami ketika berhadapan dengan pengalaman traumatis, namun jika perasaan negatif ini terus menerus dikembangkan dalam kualitas yang mendalam maka proses pemulihan akan sangat lamban.
3. Tidak adanya dukungan sosial yang seharusnya dimiliki oleh seseorang
Seseorang yang trauma tidak memiliki sarana untuk bisa mengungkapkan emosi negatif atau ketegangan yang dirasakannya. Ketika seseorang ingin berbagi tentang apa yang dialaminya, orang-orang di sekitar seringkali menghambatnya dan menganggap berbicara tentang sesuatu yang telah terjadi merupakan sesuatu yang sia-sia dan lebih baik dilupakan dan dianggap seolah-olah tidak pernah terjadi.
4. Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang
Hal ini merupakan salah satu bentuk yang menambah masalah baru yang semakin membebani seseorang yang trauma.
Usaha seseorang untuk pulih dari trauma dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berhubungan, yaitu tingkat kecerdasan seseorang, adanya orang yang bisa dijadikan tempat bergantung, kemampuan seseorang dalam mengekspresikan perasaannya, adanya rutinitas yang bisa dilakukan pasca kejadian trauma, adanya lingkungan yang stabil, adanya dukungan sosial, dan sebagainya. Jadi untuk bisa pulih secara maksimal, perlu adanya kondisi yang mendukung proses pemulihan.

Sekolah - Peran dalam Pengukuran dan Evaluasi Siswa

0 komentar
Sekolah tidak hanya memanfaatkan tes psikologik dalam program-programnya, tetapi sekolah juga merupakan konsumen utama dari beberapa tipe tes yang khusus dirancang untuk digunakan dalam bidang pendidikan. Ada dua macam kategori umum instrumen khusus ini :
1. Pengukuran Kesiapan Pendidikan
Inti dari kesiapan pendidikan adalah dimilikinya kemampuan dan keterampilan sebagai persyaratan yang memungkinkan pelajar mendapatkan manfaat semaksimal mungkin fasilitas pendidikan pada tingkat pengajaran tertentu. Sebagai contoh adalah adanya perbedaan individual dalam kesiapan sekolah masuk kelas 1 SD. Tes kesiapan (masuk) Sekolah, yang banyak digunakan pada saat anak masuk SD yaitu mencakup entry skill yang dibutuhkan untuk mengatasi situasi belajar yang dihadapi di kelas 1. Tes ”siap dididik” di Sekolah Dasar lebih menekankan kemampuan yang dianggap penting untuk belajar membaca, berpikir numerik, dan kontrol sensorimotor yang dibutuhkan untuk belajar menulis. Fungsi-fungsi yang tercakup dalam tes kesiapan Sekolah adalah diskriminasi penglihatan dan pendengaran, kontrol gerakan, pemahaman pendengaran, perbendaharaan kata, konsep kuantitatif dan pengetahuan umum. Tes kesiapan pendidikan secara umum biasa disebut dengan tes potensi akademik (TPA) atau tes kemampuan belajar (academic scholastic aptitude). Kegunaan tes ini sama dengan kegunaan tes inteligensi, serta dapat dipakai mulai sekolah dasar sampai pascasarjana. Tes ini menjurus kepada prediksi performansi akademik, yang didasari analisis perincian tugas-tugas sesungguhnya dalam proses belajar di sekolah tertentu. Terdapat juga tes prognosa yang telah disusun khusus untuk memprediksi performansi di bidang-bidang pelajaran tertentu, yang memungkinkan diketahuinya letak kelemahan seseorang dalam bidang tertentu. Tes ini berguna untuk merencanakan pendidikan/latihan tambahan yang disesuaikan dengan kebutuhannya.
2. Pengukuran Prestasi Belajar
Tes aptitude (bakat) dan tes prestasi sebenarnya tidak jauh berbeda. Beberapa tes aptitude mirip tes prestasi, dan beberapa tes prestasi dapat digunakan seefektif tes bakat untuk memprediksikan performansi pada masa mendatang. Banyak orang beranggapan bahwa tes aptitude mengukur potensi bawaan tanpa dipengaruhi oleh pengalaman belajar. Semua tes psikologik mengukur performansi sesaat, yang tidak dapat disangkal dipengaruhi oleh bawaan maupun hasil belajar sebelumnya. Kegunaan tes prestasi dapat dikelompokan menjadi tiga kategori yang saling terkait, yaitu instruksional, administratif, dan bimbingan pendidikan.
a) Fungsi Instruksional
Fungsi ini sering disebut ”Fungsi Formatif”, ialah memberikan umpan balik bagi siswa dan guru untuk melanjutkan kemajuan belajar, dan untuk mengetahui kesalahan, maupun untuk menemukan kekeliruan dalam unit pelajaran atau keperluan perbaikan proses pengajaran. Dengan adanya tes formatif (tes, ulangan, atau ujian) dapat memotivasi murid untuk giat belajar, karena mereka tahu bahwa hasil belajarnya akan dievaluasi. Selain itu, berguna juga untuk mempertahankan atau mengubah cara belajar murid. Dengan pengulangan ini maka timbul yang disebut ”overlearning” dan ”pendalaman”.
b) Fungsi Administratif
Berikut dikemukakan berbagai fungsi administratif :
Seleksi dan penempatan (placement), yang berfungsi menyaring siswa dengan melihat dipenuhinya prasyarat yang dibutuhkan, atau memasukkan siswa dalam tingkat kelas tertentu (misalnya placement test bahasa inggris yang menentukan seseorang disarankan masuk tingkat preparatory, intermediate, atau advance).
Bersifat sumatif, ialah memberikan status akhir atau nilai akhir unit, semester, atau program pendidikan bagi masing-masing murid, pemberian sertifikat tamat belajar, atau ujian skripsi bagi mahasiswa.
Bersifat evaluatif, yang berperan penting dalam evaluasi program pendidikan/latihan (program evaluation) dan pertanggungjawaban pendidikan (educational accountability).
c) Fungsi Bimbingan
Tes prestasi juga dapat digunakan sebagai alat diagnostik psikoedukasional dalam bentuk bimbingan. Misalnya, program remedial terhadap mata pelajaran yang terbukti tidak dapat dikuasai oleh seorang murid. Demikian dengan hasil belajar siswa yang diukur dengan menggunakan tes prestasi yang standart, dapat digunakan untuk membuat saran memilih perguruan tinggi, memilih bidang studi/program/penjurusan, menemukan kemampuan-kemampuan yang belum tampak sebelumnya, dan sebagainya.

Rabu, 29 Oktober 2014

Mengatasi dan Mengelola Stres

0 komentar
Stres yang dialami seseorang sangat sulit untuk dihilangkan seluruhnya, karena itu penting untuk mengelola stres dengan baik agar tidak mengganggu kehidupan seseorang. Reaksi stres yang dialami seseorang merupakan sesuatu yang wajar. Namun, reaksi-reaksi tersebut bisa menjadi suatu yang perlu mendapat perhatian serius apabila dialami secara berkepanjangan sehingga mengganggu kehidupan atau interaksi sosial seseorang. Jika stres terus menerus dialami dan dikembangkan dapat mengakibatkan konsekuensi yang buruk bagi orang yang mengalaminya, yaitu masalah psikologis yang semakin parah dan berkepanjangan. Dengan mengelola stres, konsekuensi buruk tersebut diharapkan tidak terjadi pada seseorang. Mengelola stres merupakan suatu intervensi yang diciptakan untuk menghambat perjalanan stres menjadi suatu masalah serius. Pengelolaan stres bisa dengan cara sebagai berikut :
  1. Stres dapat dikelola sejak awal sebelum seseorang memasuki situasi baru atau tidak menyenangkan. Contoh, sebelum ditempatkan atau ditugaskan di daerah pasca bencana, seorang pekerja kemanusiaan perlu menjaga kondisi tubuh dengan baik, serta pemahaman terhadap prosedur kerja dan kondisi lapangan sebelum bertugas juga penting untuk dimiliki.
  2. Seseorang dapat mengembangkan pikiran positif mengenai situasi yang dialami, karena pada dasarnya dalam setiap situasi kehidupan pasti ada sisi baiknya. Beberapa ahli mengatakan bahwa berpikir positif membuat tubuh tetap sehat, dan terhindar dari penyakit.
  3. Saat seseorang menilai suatu situasi yang bersifat mengancam, secara otomatis muncul respon emosional seperti takut, marah, dan cemas. Tiap orang pada dasarnya mampu menghambat respon emosional yang tidak menyenangkan. Caranya, dengan bernapas secara teratur dan perlahan, membayangkan pengalaman menyenangkan, serta melemaskan anggota tubuh. Cara ini dikenal dengan teknik relaksasi. Dengan melakukan hal ini, emosi negatif seperti takut, marah, cemas akan terhambat.
  4. Berolahraga merupakan salah satu cara yang efektif untuk menghambat berkembangnya respon emosional sebagai bentuk dari reaksi stres. Jenis olahraga yang dapat digunakan untuk hal ini adalah lari/jalan pagi, senam aerobik, atau bersepeda. Keuntungan dari berolahraga adalah dihasilkannya hormon endorfin yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Hormon endorfin ini dipercaya dapat mengurangi rasa sakit dan menghasilkan perasaan senang, bahagia, dan sejahtera pada seseorang.
Tidak semua orang mampu mengelola stres dengan baik, karena seringkali seseorang dihadapkan oleh situasi yang tidak nyaman akibat stres yang dialami terutama akibat pengalaman traumatik. Situasi tidak nyaman tersebut menuntut seseorang untuk bisa mengatasi stres yang dialaminya sehingga dapat menjalankan kembali kehidupan seperti sebelumnya.

MENGATASI STRES
Usaha-usaha yang dilakukan seseorang untuk menghambat atau mengurangi reaksi negatif terhadap stres dan mencegah munculnya masalah yang lebih serius merupakan suatu bentuk dalam mengatasi stres. Mengatasi stres merupakan cara bagaimana mencegah, menunda, menghindari, atau mengelola stres. Sebenarnya, ada berbagai macam cara yang dapat dilakukan seseorang sebagai bentuk upaya dalam mengatasi stres diantaranya adalah berdoa, bermain, berbicara tentang masalah yang dihadapi, bernyanyi, memasak, membaca buku, maupun rekreasi. Bila dilihat dari dampaknya pada seseorang, mengatasi stres dapat bersifat positif maupun negatif.
Mengatasi stres yang bersifat positif dengan selalu memiliki pikiran positif terhadap pengalaman traumatis yang terjadi merupakan suatu cara seseorang dalam membangun kembali dunianya pasca peristiwa traumatik. Seseorang perlu mendapatkan kembali kepercayaan dan rasa memiliki dengan orang lain, serta perasaan aman dalam kegiatannya sehari-hari. Sedangkan mengatasi stres yang bersifat negatif, seseorang mungkin saja merasa bahwa tingkatan stresnya akan berkurang atau dapat diatasi namun sebaliknya, muncul dampak lebih lanjut yang buruk dan menjadi masalah baru yang menambah beban seseorang yang mengalaminya. Seperti mabuk, menggunakan obat-obatan terlarang, dan pergaulan bebas merupakan jenis mengatasi stres yang bersifat negatif.

Berbagi perasaan sebagai satu bentuk mengatasi stres yang efektif
Berbagi cerita pada orang lain tentang perasaan dan pikiran kita merupakan salah satu cara dalam mengatasi stres atau trauma. Inti dari cara ini adalah mengungkapkan apa yang dialami oleh diri kita, khususnya pengalaman-pengalaman negatif. Bentuknya dapat bermacam-macam seperti, berbagi pengalaman dengan bercerita pada orang yang dipercaya, atau ’berbicara’ dengan diri sendiri tentang berbagai pengalaman yang dirasakan misalnya melalui menulis, menggambar, menciptakan lagu/puisi bahkan merenung termasuk didalamnya.
Berbagi pengalaman sulit pada orang lain memang terasa seperti membuka luka lama. Namun, jika kita dapat melakukannya, maka kita akan mendapatkan berbagai keuntungan bagi diri sendiri. Dengan berbagi pikiran dan perasaan dapat membantu kita untuk melepaskan ketegangan dan memperoleh perasaan lega, dapat berpikir lebih jernih tentang apa yang telah terjadi sehingga tahu bagaimana bersikap yang tepat, membangun kembali rasa percaya diri, meningkatkan harga diri dan keyakinan diri. Bagi seseorang yang mengalami trauma, berbagi pengalaman dapat membantunya untuk melihat dan menyadari berbagai pilihan dan cara pemecahan masalah untuk membuat keputusan yang tepat. Bagi seseorang yang mengalami trauma, berbagi perasaan pada orang lain menimbulkan keuntungan tersendiri. Selain mengurangi perasaan negatif yang disimpan selama ini, mereka juga dapat merasa diterima, diperhatikan, dan dihargai oleh orang lain, apabila orang yang mendengarkannya dapat memberi respon yang positif.

Kesulitan Belajar Pada Anak

0 komentar
Kesulitan belajar yang didefinisikan oleh The United States Office of Education (USOE) yang dikutip oleh Abdurrahman (2003 : 06) menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ajaran atau tulisan.
Di samping definisi tersebut, ada definisi lain yang yang dikemukakan oleh The National Joint Commite for Learning Dissabilites (NJCLD) dalam Abdurrahman (2003 : 07) bahwa kesulitan belajar menunjuk kepada suatu kelompok kesulitan yang didefenisikan dalam bentuk kesulitan nyata dalam kematian dan penggunan kemampuan pendengaran, bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar atau kemampuan dalam bidang studi biologi.
Sedangkan menurut Sunarta (1985 : 7) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kesulitan belajar adalah “kesulitan yag dialami oleh siswa-siswi dalam kegiatan belajarnya, sehingga berakibat prestasi belajarnya rendah dan perubahan tingkah laku yang terjadi tidak sesuai dengan partisipasi yang diperoleh sebagaimana teman-teman kelasnya.
Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa kesulitan belajar adalah suatu keadaan dalam proses belajar mengajar dimana anak didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Kesulitan belajar pada dasarnya adalah suatu gejala yang nampak dalam berbagai manifestasi tingkah laku, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Di samping kondisi umum itu, hal lain yang tidak kalah pentingnya diperhatikan adalah kondisi cacat tubuh yang merupakan salah satu penghambat dalam melakukan kegiatan belajar (Dalyono, 1997 : 232) menggolongkan cacat tubuh itu menjadi 2 macam yaitu :
  • Cacat tubuh yang ringan seperti kurang pandangan dan gangguan psikomotorik
  • Cacat tubuh serius (tetap) buta, tuli, bisu, hilang ingatan dan kakinya.
Faktor Yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar
Dalam belajar tidaklah selalu berhasil, tetapi sering kali hal-hal yang mengakibatkan kegagalan atau setidak-tidaknya menjadi gangguan yang menghambat kemajuan belajar. Kegagalan atau kesulitan belajar biasanya ada hal atau faktor yang menyebabkannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar antara lain :
1. Faktor Internal
Faktor internal faktor internal adalah faktor yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri, yang dapat dibedakan atas beberapa faktor yaitu intelegensi, minat, bakat, dan kepribadian.
  • Faktor Intelegensi
    Intelegensi ini dapat mempengaruhi kesulitan belajar seorang anak. Keberhasilan belajar seorang anak ditentukan dari tinggi rendahnya tingkat kecerdasan yang dimilikinya, dimana seorang anak yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi cenderung akan lebih berhasil dalam belajarnya dibandingkan dengan anak yang intelegensinya rendah.
  • Faktor Minat
    Faktor minat dalam belajar sangat penting. Hasil belajar akan lebih optimal bila disertai dengan minat. Dengan adanya minat mendorong kearah keberhasialan, anak yang berminat terhadap suatu pelajaran akan lebih mudah untuk mempelajarinya dan sebaliknya anak yang kurang berminat akan mengalami kesulitan dalam belajarnya.Dari pendapat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa minat sangat diperlukan dalam belajar, karena minat itu sendiri sebagai pendorong dalam belajar dan sebaliknya anak yang kurang berminat terhadap belajarnya akan cenderung mengalami kesulitan dalam belajarnya.
  • Faktor Bakat
    Bakat ini dapat menyebabkan kesulitan belajar, jika bakat ini kurang mendapatkan perhatian. Hal ini sesuai dengan pendapat yang menjelaskan bahwa: bakat setiap orang berbeda-beda, orang tua kadang-kadang tidak memperhatikan faktor bakat ini(Singgih Gunarsa, Psikologi Keluarga (Jakarta : PT. Bina Rena Pertama, 1992), 13.). Anak sering diarahkan sesuai dengan kemauan orang tuanya, akibatnya anak merasakan sesuatu beban, tekanan dan tidak ada kemauan lagi untuk belajar.Dari pendapat tersebut, dapat dijelaskan bahwa adanya pemaksaan dari orang tua didalam mengarahkan anak yang tidak sesuai dengan bakatnya dapat membebani anak, memunculkan nilai-nilai yang kurang baik, bahkan dirasakan menjadi tekanan bagi anak yang akhirnya akan berakibat kurang baik terhadap belajar anak di sekolah.
  • Faktor Kepribadian
    Faktor kepribadian dapat menyebabkan kesulitan belajar, jika tidak memperhatikan fase-fase perkembangan (kepribadian) seseorang. Hal ini sebagaimana pendapat yang menjelaskan bahwa: fase perkembangan kepribadian seseorang tidak selalu sama (Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Jakarta : Rineka Cipta, 1992), 13). Fase pembentuk kepribadian ada beberapa fase yang harus dilalui. Seorang anak yang belum mencapai suatu fase tertentu akan mengalami kesulitan dalam berbagai hal termasuk dalam hal belajar.Dari pendapat tersebut, menunjukkan bahwa tidak semua fase-fase perkembangan (kepribadian) ini akan berjalan dengan begitu saja tanpa menimbulkan masalah, malah ada fase tertentu yang menimbulkan berbagai persoalan termasuk dalam hal kesulitan dalam belajar.
2. Faktor eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang datang dari luar diri individu. Faktor eksternal ini dapat di bedakan menjadi tiga faktor yaitu 1). Faktor keluarga 2). Faktor sekolah 3). Faktor masyarakat.
a. Faktor Keluarga
Peranan orang tua (kelurga) sebagai tempat yang utama dan pertama didalam pembinaan dan pengembangan potensi anak-anaknya. Namun tidak semua orang tua mampu melaksanakanya dengan penuh tanggung jawab.
Beberapa hal yang dapat menimbulkan persoalan yang bersumber dari keluarga adalah seperti: a). sikap orang tua yag mengucilkan anaknya, tidak mepercayai, tidak adil dan tidak mau menerima anaknya secara wajar, b). broken home, perceraian, percekcokan, c). Didikan yang otoriter, terlalu lemah dan memanjakannya, d). Orang tua tidak mengetahui kemampuan anaknya, sifat kepribadian, minat, bakat, dan sebagainya.( Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta : Rineka Cipta, 1990), 4-5)
Ada beberapa aspek yang dapat menimbulkan masalah kesulitan belajar seorang anak yaitu: a). Didikan orang tua yang keliru, b). Suasana rumah yang kurang aman dan kurang harmonis, c). Keadaan ekonomi orang tua yang lemah(Ibid, 32)
Dari kedua pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang dapat menimbulkan persoalan atau sumber permasalahan adalah sikap orang tua yang mengucilkan anaknya, tidak mempercayai, tidak adil dan tidak mau menerima anaknya secara wajar, broken home, perceraian, percekcokan dan orang tua yang tidak tau kemampuan anaknya.
b. Faktor Lingkungan Sekolah
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal setelah keluarga dapat menjadi masalah pada umumnya, dan khususnya masalah kesulitan belajar pada siswa.
Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa:
Lingkungan sekolah dapat menjadikan faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar seperti:
1). Cara penyajian pelajaran kurang baik.
2). Hubungan guru dan murid kurang harmonis.
3). Hubungan antara guru dengan murid itu sendiri tidak baik.
4). Bahan pelajaran yang disajikan tidak dimengerti siswa, dan
5). Alat-alat pelajaran yang tersedia kurang memadai (Ibid, 31.)
c. Faktor Lingkungan Masyarakat
Faktor lingkungan masyarakat sangat berperan di dalam pembentukan kepribadian anak, termasuk pula kemampuan/ pengetahuannya. Dimana lingkungan masyarakat yang memiliki kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik, seperti: suka minum-minuman keras, penjudi dan sebagainya, dapat menghambat pembentukam kepribadiaan dan kemampuan, termasuk pula dalam proses belajar mengajar seorang anak.
Lingkungan masyarakat yang dapat mempengaruhi kesulitan belajar adalah:
  • Mass Media, seperti bioskop, televisi, radio, surat kabar, majalah, komik
  • Corak Kehidupan tetangga, seperti orang terpelajar dan cendekiawan, tetangga yang suka berjudi, pencuri, peminum, dan sebagainya (Ibid, 43)

Bagaimana agar Anak Kreatif ataukah Cerdas ?

0 komentar
Apa jawaban Anda jika diminta memilih, anak harus tumbuh kreatif atau cerdas? Banyak orangtua masih sulit memilih mana yang lebih baik, antara kreatif atau cerdas.Perlu diketahui bahwa kedua pilihan tersebut jelas berbeda.
Kreativitas memang bukan anugrah yang diberikan Tuhan secara instan, melainkan butuh proses untuk mendapatkannya. Proses ini tentu butuh campur tangan orangtua sebagai konseptor, yang berperan penting dalam menentukan hitam putihnya masa depan anak. Anak merupakan tanggung jawab orangtua secara utuh, dan apa yang dibutuhkan anak, orangtualah yang seharusnya lebih tahu. Sebab tak ada yang mengenal anak sebaik orangtua mereka sendiri. Jadi kemanapun arah fokus pendidikan anak merupakan tanggung jawab orangtua.
Banyak orangtua yang menganggap bahwa apa yang diajarkan kepada anak telah benar, namun hal itu ternyata belum cukup. Orangtua hanya akan membuat anak cerdas bukan kreatif. Padahal, dengan kreatif maka anak akan menjadi cerdas. Terdapat beberapa alasan utama yang melatarbelakangi mengapa sejak dini kita sebagai orangtua perlu berusaha untuk mengasah kreativitas anak kita.
Saat ini, terjadi beberapa perubahan yang begitu pesat. Itulah mengapa menjadi kreatif sangat diperlukan, selain pola berpikir cepat dan fleksibel, anak pun akan lebih adaptif dalam menyikapi tuntutan-tuntutan yang sesuai. Berpikir dan bersikap kreatif dapat menjadi solusinya. Alasan lain adalah menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri dalam rangka mengoptimalkan kecerdasan anak. Perhatikan paradigma kebanyakan orangtua di Indonesia yang ‘justru’ lebih mengedepankan pemenuhan kebutuhan otak kiri dibandingkan otak kanan.
Namun yang perlu diingat oleh para orangtua adalah setiap anak terlahir dengan potensi yang memiliki kesamaan sifat yaitu spontan, ingin tahu, dan tertarik dengan sesuatu yang baru. Oleh karena itu, jika sejak awal sudah merupakan potensi anak, maka akan menjadi kerugian besar bagi orangtua jika menyia-nyiakannya.
Orangtua memiliki peran yang cukup besar dalam merangsang anak untuk berkreasi. Kreativitas anak menentukan 80 persen keberhasilan anak di masa depannya, sementara 20 persen lainnya ditentukan oleh inteligensi anak. Cerdas saja belum cukup membuat anak menjadi seorang yang sukses, tetapi anak yang kreatif berpeluang lebih besar untuk menjadi orang besar.
 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com