Rabu, 29 Oktober 2014

Mengatasi dan Mengelola Stres

0 komentar
Stres yang dialami seseorang sangat sulit untuk dihilangkan seluruhnya, karena itu penting untuk mengelola stres dengan baik agar tidak mengganggu kehidupan seseorang. Reaksi stres yang dialami seseorang merupakan sesuatu yang wajar. Namun, reaksi-reaksi tersebut bisa menjadi suatu yang perlu mendapat perhatian serius apabila dialami secara berkepanjangan sehingga mengganggu kehidupan atau interaksi sosial seseorang. Jika stres terus menerus dialami dan dikembangkan dapat mengakibatkan konsekuensi yang buruk bagi orang yang mengalaminya, yaitu masalah psikologis yang semakin parah dan berkepanjangan. Dengan mengelola stres, konsekuensi buruk tersebut diharapkan tidak terjadi pada seseorang. Mengelola stres merupakan suatu intervensi yang diciptakan untuk menghambat perjalanan stres menjadi suatu masalah serius. Pengelolaan stres bisa dengan cara sebagai berikut :
  1. Stres dapat dikelola sejak awal sebelum seseorang memasuki situasi baru atau tidak menyenangkan. Contoh, sebelum ditempatkan atau ditugaskan di daerah pasca bencana, seorang pekerja kemanusiaan perlu menjaga kondisi tubuh dengan baik, serta pemahaman terhadap prosedur kerja dan kondisi lapangan sebelum bertugas juga penting untuk dimiliki.
  2. Seseorang dapat mengembangkan pikiran positif mengenai situasi yang dialami, karena pada dasarnya dalam setiap situasi kehidupan pasti ada sisi baiknya. Beberapa ahli mengatakan bahwa berpikir positif membuat tubuh tetap sehat, dan terhindar dari penyakit.
  3. Saat seseorang menilai suatu situasi yang bersifat mengancam, secara otomatis muncul respon emosional seperti takut, marah, dan cemas. Tiap orang pada dasarnya mampu menghambat respon emosional yang tidak menyenangkan. Caranya, dengan bernapas secara teratur dan perlahan, membayangkan pengalaman menyenangkan, serta melemaskan anggota tubuh. Cara ini dikenal dengan teknik relaksasi. Dengan melakukan hal ini, emosi negatif seperti takut, marah, cemas akan terhambat.
  4. Berolahraga merupakan salah satu cara yang efektif untuk menghambat berkembangnya respon emosional sebagai bentuk dari reaksi stres. Jenis olahraga yang dapat digunakan untuk hal ini adalah lari/jalan pagi, senam aerobik, atau bersepeda. Keuntungan dari berolahraga adalah dihasilkannya hormon endorfin yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Hormon endorfin ini dipercaya dapat mengurangi rasa sakit dan menghasilkan perasaan senang, bahagia, dan sejahtera pada seseorang.
Tidak semua orang mampu mengelola stres dengan baik, karena seringkali seseorang dihadapkan oleh situasi yang tidak nyaman akibat stres yang dialami terutama akibat pengalaman traumatik. Situasi tidak nyaman tersebut menuntut seseorang untuk bisa mengatasi stres yang dialaminya sehingga dapat menjalankan kembali kehidupan seperti sebelumnya.

MENGATASI STRES
Usaha-usaha yang dilakukan seseorang untuk menghambat atau mengurangi reaksi negatif terhadap stres dan mencegah munculnya masalah yang lebih serius merupakan suatu bentuk dalam mengatasi stres. Mengatasi stres merupakan cara bagaimana mencegah, menunda, menghindari, atau mengelola stres. Sebenarnya, ada berbagai macam cara yang dapat dilakukan seseorang sebagai bentuk upaya dalam mengatasi stres diantaranya adalah berdoa, bermain, berbicara tentang masalah yang dihadapi, bernyanyi, memasak, membaca buku, maupun rekreasi. Bila dilihat dari dampaknya pada seseorang, mengatasi stres dapat bersifat positif maupun negatif.
Mengatasi stres yang bersifat positif dengan selalu memiliki pikiran positif terhadap pengalaman traumatis yang terjadi merupakan suatu cara seseorang dalam membangun kembali dunianya pasca peristiwa traumatik. Seseorang perlu mendapatkan kembali kepercayaan dan rasa memiliki dengan orang lain, serta perasaan aman dalam kegiatannya sehari-hari. Sedangkan mengatasi stres yang bersifat negatif, seseorang mungkin saja merasa bahwa tingkatan stresnya akan berkurang atau dapat diatasi namun sebaliknya, muncul dampak lebih lanjut yang buruk dan menjadi masalah baru yang menambah beban seseorang yang mengalaminya. Seperti mabuk, menggunakan obat-obatan terlarang, dan pergaulan bebas merupakan jenis mengatasi stres yang bersifat negatif.

Berbagi perasaan sebagai satu bentuk mengatasi stres yang efektif
Berbagi cerita pada orang lain tentang perasaan dan pikiran kita merupakan salah satu cara dalam mengatasi stres atau trauma. Inti dari cara ini adalah mengungkapkan apa yang dialami oleh diri kita, khususnya pengalaman-pengalaman negatif. Bentuknya dapat bermacam-macam seperti, berbagi pengalaman dengan bercerita pada orang yang dipercaya, atau ’berbicara’ dengan diri sendiri tentang berbagai pengalaman yang dirasakan misalnya melalui menulis, menggambar, menciptakan lagu/puisi bahkan merenung termasuk didalamnya.
Berbagi pengalaman sulit pada orang lain memang terasa seperti membuka luka lama. Namun, jika kita dapat melakukannya, maka kita akan mendapatkan berbagai keuntungan bagi diri sendiri. Dengan berbagi pikiran dan perasaan dapat membantu kita untuk melepaskan ketegangan dan memperoleh perasaan lega, dapat berpikir lebih jernih tentang apa yang telah terjadi sehingga tahu bagaimana bersikap yang tepat, membangun kembali rasa percaya diri, meningkatkan harga diri dan keyakinan diri. Bagi seseorang yang mengalami trauma, berbagi pengalaman dapat membantunya untuk melihat dan menyadari berbagai pilihan dan cara pemecahan masalah untuk membuat keputusan yang tepat. Bagi seseorang yang mengalami trauma, berbagi perasaan pada orang lain menimbulkan keuntungan tersendiri. Selain mengurangi perasaan negatif yang disimpan selama ini, mereka juga dapat merasa diterima, diperhatikan, dan dihargai oleh orang lain, apabila orang yang mendengarkannya dapat memberi respon yang positif.

Kesulitan Belajar Pada Anak

0 komentar
Kesulitan belajar yang didefinisikan oleh The United States Office of Education (USOE) yang dikutip oleh Abdurrahman (2003 : 06) menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ajaran atau tulisan.
Di samping definisi tersebut, ada definisi lain yang yang dikemukakan oleh The National Joint Commite for Learning Dissabilites (NJCLD) dalam Abdurrahman (2003 : 07) bahwa kesulitan belajar menunjuk kepada suatu kelompok kesulitan yang didefenisikan dalam bentuk kesulitan nyata dalam kematian dan penggunan kemampuan pendengaran, bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar atau kemampuan dalam bidang studi biologi.
Sedangkan menurut Sunarta (1985 : 7) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kesulitan belajar adalah “kesulitan yag dialami oleh siswa-siswi dalam kegiatan belajarnya, sehingga berakibat prestasi belajarnya rendah dan perubahan tingkah laku yang terjadi tidak sesuai dengan partisipasi yang diperoleh sebagaimana teman-teman kelasnya.
Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa kesulitan belajar adalah suatu keadaan dalam proses belajar mengajar dimana anak didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Kesulitan belajar pada dasarnya adalah suatu gejala yang nampak dalam berbagai manifestasi tingkah laku, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Di samping kondisi umum itu, hal lain yang tidak kalah pentingnya diperhatikan adalah kondisi cacat tubuh yang merupakan salah satu penghambat dalam melakukan kegiatan belajar (Dalyono, 1997 : 232) menggolongkan cacat tubuh itu menjadi 2 macam yaitu :
  • Cacat tubuh yang ringan seperti kurang pandangan dan gangguan psikomotorik
  • Cacat tubuh serius (tetap) buta, tuli, bisu, hilang ingatan dan kakinya.
Faktor Yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar
Dalam belajar tidaklah selalu berhasil, tetapi sering kali hal-hal yang mengakibatkan kegagalan atau setidak-tidaknya menjadi gangguan yang menghambat kemajuan belajar. Kegagalan atau kesulitan belajar biasanya ada hal atau faktor yang menyebabkannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar antara lain :
1. Faktor Internal
Faktor internal faktor internal adalah faktor yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri, yang dapat dibedakan atas beberapa faktor yaitu intelegensi, minat, bakat, dan kepribadian.
  • Faktor Intelegensi
    Intelegensi ini dapat mempengaruhi kesulitan belajar seorang anak. Keberhasilan belajar seorang anak ditentukan dari tinggi rendahnya tingkat kecerdasan yang dimilikinya, dimana seorang anak yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi cenderung akan lebih berhasil dalam belajarnya dibandingkan dengan anak yang intelegensinya rendah.
  • Faktor Minat
    Faktor minat dalam belajar sangat penting. Hasil belajar akan lebih optimal bila disertai dengan minat. Dengan adanya minat mendorong kearah keberhasialan, anak yang berminat terhadap suatu pelajaran akan lebih mudah untuk mempelajarinya dan sebaliknya anak yang kurang berminat akan mengalami kesulitan dalam belajarnya.Dari pendapat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa minat sangat diperlukan dalam belajar, karena minat itu sendiri sebagai pendorong dalam belajar dan sebaliknya anak yang kurang berminat terhadap belajarnya akan cenderung mengalami kesulitan dalam belajarnya.
  • Faktor Bakat
    Bakat ini dapat menyebabkan kesulitan belajar, jika bakat ini kurang mendapatkan perhatian. Hal ini sesuai dengan pendapat yang menjelaskan bahwa: bakat setiap orang berbeda-beda, orang tua kadang-kadang tidak memperhatikan faktor bakat ini(Singgih Gunarsa, Psikologi Keluarga (Jakarta : PT. Bina Rena Pertama, 1992), 13.). Anak sering diarahkan sesuai dengan kemauan orang tuanya, akibatnya anak merasakan sesuatu beban, tekanan dan tidak ada kemauan lagi untuk belajar.Dari pendapat tersebut, dapat dijelaskan bahwa adanya pemaksaan dari orang tua didalam mengarahkan anak yang tidak sesuai dengan bakatnya dapat membebani anak, memunculkan nilai-nilai yang kurang baik, bahkan dirasakan menjadi tekanan bagi anak yang akhirnya akan berakibat kurang baik terhadap belajar anak di sekolah.
  • Faktor Kepribadian
    Faktor kepribadian dapat menyebabkan kesulitan belajar, jika tidak memperhatikan fase-fase perkembangan (kepribadian) seseorang. Hal ini sebagaimana pendapat yang menjelaskan bahwa: fase perkembangan kepribadian seseorang tidak selalu sama (Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Jakarta : Rineka Cipta, 1992), 13). Fase pembentuk kepribadian ada beberapa fase yang harus dilalui. Seorang anak yang belum mencapai suatu fase tertentu akan mengalami kesulitan dalam berbagai hal termasuk dalam hal belajar.Dari pendapat tersebut, menunjukkan bahwa tidak semua fase-fase perkembangan (kepribadian) ini akan berjalan dengan begitu saja tanpa menimbulkan masalah, malah ada fase tertentu yang menimbulkan berbagai persoalan termasuk dalam hal kesulitan dalam belajar.
2. Faktor eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang datang dari luar diri individu. Faktor eksternal ini dapat di bedakan menjadi tiga faktor yaitu 1). Faktor keluarga 2). Faktor sekolah 3). Faktor masyarakat.
a. Faktor Keluarga
Peranan orang tua (kelurga) sebagai tempat yang utama dan pertama didalam pembinaan dan pengembangan potensi anak-anaknya. Namun tidak semua orang tua mampu melaksanakanya dengan penuh tanggung jawab.
Beberapa hal yang dapat menimbulkan persoalan yang bersumber dari keluarga adalah seperti: a). sikap orang tua yag mengucilkan anaknya, tidak mepercayai, tidak adil dan tidak mau menerima anaknya secara wajar, b). broken home, perceraian, percekcokan, c). Didikan yang otoriter, terlalu lemah dan memanjakannya, d). Orang tua tidak mengetahui kemampuan anaknya, sifat kepribadian, minat, bakat, dan sebagainya.( Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta : Rineka Cipta, 1990), 4-5)
Ada beberapa aspek yang dapat menimbulkan masalah kesulitan belajar seorang anak yaitu: a). Didikan orang tua yang keliru, b). Suasana rumah yang kurang aman dan kurang harmonis, c). Keadaan ekonomi orang tua yang lemah(Ibid, 32)
Dari kedua pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang dapat menimbulkan persoalan atau sumber permasalahan adalah sikap orang tua yang mengucilkan anaknya, tidak mempercayai, tidak adil dan tidak mau menerima anaknya secara wajar, broken home, perceraian, percekcokan dan orang tua yang tidak tau kemampuan anaknya.
b. Faktor Lingkungan Sekolah
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal setelah keluarga dapat menjadi masalah pada umumnya, dan khususnya masalah kesulitan belajar pada siswa.
Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa:
Lingkungan sekolah dapat menjadikan faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar seperti:
1). Cara penyajian pelajaran kurang baik.
2). Hubungan guru dan murid kurang harmonis.
3). Hubungan antara guru dengan murid itu sendiri tidak baik.
4). Bahan pelajaran yang disajikan tidak dimengerti siswa, dan
5). Alat-alat pelajaran yang tersedia kurang memadai (Ibid, 31.)
c. Faktor Lingkungan Masyarakat
Faktor lingkungan masyarakat sangat berperan di dalam pembentukan kepribadian anak, termasuk pula kemampuan/ pengetahuannya. Dimana lingkungan masyarakat yang memiliki kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik, seperti: suka minum-minuman keras, penjudi dan sebagainya, dapat menghambat pembentukam kepribadiaan dan kemampuan, termasuk pula dalam proses belajar mengajar seorang anak.
Lingkungan masyarakat yang dapat mempengaruhi kesulitan belajar adalah:
  • Mass Media, seperti bioskop, televisi, radio, surat kabar, majalah, komik
  • Corak Kehidupan tetangga, seperti orang terpelajar dan cendekiawan, tetangga yang suka berjudi, pencuri, peminum, dan sebagainya (Ibid, 43)

Bagaimana agar Anak Kreatif ataukah Cerdas ?

0 komentar
Apa jawaban Anda jika diminta memilih, anak harus tumbuh kreatif atau cerdas? Banyak orangtua masih sulit memilih mana yang lebih baik, antara kreatif atau cerdas.Perlu diketahui bahwa kedua pilihan tersebut jelas berbeda.
Kreativitas memang bukan anugrah yang diberikan Tuhan secara instan, melainkan butuh proses untuk mendapatkannya. Proses ini tentu butuh campur tangan orangtua sebagai konseptor, yang berperan penting dalam menentukan hitam putihnya masa depan anak. Anak merupakan tanggung jawab orangtua secara utuh, dan apa yang dibutuhkan anak, orangtualah yang seharusnya lebih tahu. Sebab tak ada yang mengenal anak sebaik orangtua mereka sendiri. Jadi kemanapun arah fokus pendidikan anak merupakan tanggung jawab orangtua.
Banyak orangtua yang menganggap bahwa apa yang diajarkan kepada anak telah benar, namun hal itu ternyata belum cukup. Orangtua hanya akan membuat anak cerdas bukan kreatif. Padahal, dengan kreatif maka anak akan menjadi cerdas. Terdapat beberapa alasan utama yang melatarbelakangi mengapa sejak dini kita sebagai orangtua perlu berusaha untuk mengasah kreativitas anak kita.
Saat ini, terjadi beberapa perubahan yang begitu pesat. Itulah mengapa menjadi kreatif sangat diperlukan, selain pola berpikir cepat dan fleksibel, anak pun akan lebih adaptif dalam menyikapi tuntutan-tuntutan yang sesuai. Berpikir dan bersikap kreatif dapat menjadi solusinya. Alasan lain adalah menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri dalam rangka mengoptimalkan kecerdasan anak. Perhatikan paradigma kebanyakan orangtua di Indonesia yang ‘justru’ lebih mengedepankan pemenuhan kebutuhan otak kiri dibandingkan otak kanan.
Namun yang perlu diingat oleh para orangtua adalah setiap anak terlahir dengan potensi yang memiliki kesamaan sifat yaitu spontan, ingin tahu, dan tertarik dengan sesuatu yang baru. Oleh karena itu, jika sejak awal sudah merupakan potensi anak, maka akan menjadi kerugian besar bagi orangtua jika menyia-nyiakannya.
Orangtua memiliki peran yang cukup besar dalam merangsang anak untuk berkreasi. Kreativitas anak menentukan 80 persen keberhasilan anak di masa depannya, sementara 20 persen lainnya ditentukan oleh inteligensi anak. Cerdas saja belum cukup membuat anak menjadi seorang yang sukses, tetapi anak yang kreatif berpeluang lebih besar untuk menjadi orang besar.

Bagaimana Pola Asuh Orang Tua yang Efektif

0 komentar
Sebagai orang tua yang telah memiliki anak pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, termasuk dalam cara mendidik anak-anaknya. Setiap orangtua memiliki cara atau pola yang berbeda-beda dalam mengasuh anak-anaknya. Maka dari itu, kali ini akan dibahas tentang pola asuh orangtua. Sebelumnya akan dibahas terlebih dulu tentang pengertian pola asuh itu sendiri. Pola asuh terdiri dari dua kata yaitu pola dan asuh. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pola berarti corak, model, sistem, cara kerja, bentuk (struktur) yang tetap.

Sedangkan kata asuh dapat berarti menjaga (merawat dan mendidik) anak kecil, membimbing (membantu; melatih dan sebagainya), dan memimpin (mengepalai dan menyelenggarakan) satu badan atau lembaga.

PENGERTIAN POLA ASUH MENURUT PARA AHLI

Banyak ahli psikologi dan sosiologi yang merumuskan pengertian dari pola asuh orang tua menurut cara pandang mereka masing masing. Adapun definisi pola asuh orang tua menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut:
  • Pola Asuh adalah gambaran yang dipakai oleh orang tua untuk mengasuh (merawat, menjaga atau mendidik) anak (Singgih D. Gunarsa, 1991 : 108-109).
  • Menurut Chabib Thoha (1996:109) yang mengemukakan bahwa pola asuh orang tua adalah suatu cara terbaik yang dapat ditempuh orang tua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab kepada anak.
  • Menurut Singgih D. Gunarso (2000: 55) “Pola asuh orang tua merupakan perlakuan orang tua dalam interaksi yang meliputi orang tua menunjukkan kekuasaan dan cara orang tua memperhatikan keinginan anak. Kekuasaan atau cara yang digunakan orang tua cenderung mengarah pada pola asuh yang diterapkan”
  • Sam Vaknin, Ph.D (2009) mengatakan bahwa “Parenting is interaction between parent’s and children during their care”.
  • Kohn yang dikutip Tarsis Tarmudji menyatakan “Pola asuhan merupakan sikap orang tua dalam berinteraksi dengan anak- anaknya. Sikap orang tua ini meliputi cara orang tua memberikan aturan aturan, hadiah maupun hukuman, cara orang tua menunjukan otoritasnya, dan cara orang tua memberikan perhatian serta tanggapan terhadap anaknya”.
Dari beberapa pengertian yang dikemukakan di atas oleh para ahli dapat disimpulkan bahwa pengertian pola asuh orang tua mengandung pengertian
1. Interaksi pengasuhan orang tua dengan anaknya.
2. Sikap orang tua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya.
3. Pola perilaku orang tua untuk berhubungan dengan anak-anaknya.
Pola asuh orang tua adalah suatu hubungan interaksi antara orang tua yaitu ayah dan ibu dengan anaknya yang melibatkan aspek sikap, nilai, dan kepercayaan orang tua sebagai bentuk dari upaya pengasuhan, pemeliharaan, menunjukan kekuasaannya terhadap anak dan salah satu tanggung jawab
orang tua dalam mengantarkan anaknya menuju kedewasaan.
Lebih jelasnya, kata asuh adalah mencakup segala aspek yang berkaitan dengan pemeliharaan, perawatan, dukungan, dan bantuan sehingga orang tetap berdiri dan menjalani hidupnya secara sehat.
Menurut Dr. Ahmad Tafsir seperti yang dikutip oleh Danny I. Yatim-Irwanto Pola asuh berarti pendidikan, sedangkan pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.Jadi pola asuh orang tua adalah suatu keseluruhan interaksi antara orang tua dengan anak, di mana orang tua bermaksud menstimulasi anaknya dengan mengubah tingkah laku, pengetahuan serta nilai-nilai yang dianggap paling tepat oleh orang tua, agar anak mandiri, tumbuh dan berkembang secara sehat dan optimal
Tipe/ Macam Pola Asuh
Dalam mengasuh anak orang tua cenderung menggunakan pola asuh tertentu. Menurut dr. Baumrind, terdapat 3 macam pola asuh orang tua yaitu demokratis, otoriter dan permisif.

a. Demokratis
Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu dalam mengendalikan mereka. Orang tua dengan perilaku ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat. (Ira Petranto, 2005). Misalnya ketika orang tua menetapkan untuk menutup pintu kamar mandi ketika sedang mandi dengan diberi penjelasan, mengetuk pintu ketika masuk kamar orang tua, memberikan penjelasan perbedaan laki-laki dan perempuan, berdiskusi tentang hal yang tidak boleh dilakukan anak misalnya tidak boleh keluar dari kamar mandi dengan telanjang, sehingga orang tua yang demokratis akan berkompromi dengan anak. (Debri, 2008).
b. Otoriter- Pengertian Pola Asuh Menurut Para Ahli
Pola asuh ini sebaliknya cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman mislalnya, kalau tidak mau makan, maka tidak akan diajak bicara. Orang tua tipe ini cenderung memaksa, memerintah dan menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi dan dalam berkomunikasi biasanya bersifat satu arah. (Ira Petranto, 2005). Misalnya anaknya harus menutup pintu kamar mandi ketika mandi tanpa penjelasan, anak laki-laki tidak boleh bermain dengan anak perempuan, melarang anak bertanya kenapa dia lahir, anak dilarang bertanya tentang lawan jenisnya. Dalam hal ini tidak mengenal kompromi. Anak suka atau tidak suka, mau atau tidak mau harus memenuhi target yang ditetapkan orang tua. Anak adalah obyek yang harus dibentuk orang tua yang merasa lebih tahu mana yang terbaik untuk anak-anaknya. (Debri, 2008).
c. Permisif
Pola asuh ini memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Mereka cenderung tidak menegur / memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka, sehingga seringkali disukai oleh anak. (Ira Petranto, 2005). Misalnya anak yang masuk kamar orang tua tanpa mengetuk pintu dibiarkan, telanjang dari kamar mandi dibiarkan begitu saja tanpa ditegur, membiarkan anak melihat gambar yang tidak layak untuk anak kecil, degan pertimbangan anak masih kecil. Sebenarnya, orang tua yang menerapka pola asuh seperti ini hanya tidak ingin konflik dengan anaknya. (Debri, 2008).
Karakteristik Anak Dalam Kaitannya dengan Pola Asuh Orang tua
  1. Pola asuh demokratis akan menghasikan karakteristik anak-anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal baru dan koperatif terhadap orang-orang lain.
  2. Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, cemas dan menarik diri.
  3. Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsive, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri, dan kurang matang secara sosial (Rina M. Taufik, 2006).

Syarat Pola Asuh Efektif
Pola asuh yang efektif itu bisa dilihat dari hasilnya anak jadi mampu memahami aturan-aturan di masyarakat, syarat paling utama pola asuh yang efektif adalah landasan cinta dan kasih sayang.Berikut hal-hal yang dilakukan orang tua demi menuju pola asuh efektif :
a. Pola Asuh harus dinamis
Pola asuh harus sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebagai contoh, penerapan pola asuh untuk anak balita tentu berbeda dari pola asuh untuk anak usia sekolah. Pasalnya,kemampuan berfikir balita masih sederhana. Jadi pola asuh harus disertai komunikasi yag tidak bertele-tele dan bahasa yang mudah dimengerti.
b. Pola asuh harus sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak
Ini perlu dilakukan karena kebutuhan dan kemampuan anak yang berbeda. Shanti memperkirakan saat usia satu tahun, potensi anak sudah mulai dapat terlihat seumpama jika mendengar alunan musik, dia lebih tertarik ketimbang anak seusianya, kalau orang tua sudah memiliki gambaran potensi anak, maka ia perlu diarahkan dan difasilitasi.
c. Ayah ibu mesti kompak
Ayah dan ibu sebaiknya menerapkan pola asuh yang sama. Dalam hal ini, kedua orang tua sebaiknya “berkompromi” dalam menetapkan nilai-nilai yang boleh dan tidak.
d. Pola asuh mesti disertai perilaku positif dari orang tua
Penerapan pola asuh juga membutuhkan sikap-sikap positif dari orang tua sehingga bisa dijadikan contoh/panutan bagi anaknya. Tanamkan nilai-nilai kebaikan dengan disertai penjelasan yang mudah dipahami.
e. Komunikasi efektif
Syarat untuk berkomunkasi efektif sederhana yaitu luangkan waktu untuk berbincang-bincang dengan anak. Jadilah pendengar yang baik dan jangan meremehkan pendapat anak. Dalam setiap diskusi, orang tua dapat memberikan saran, masukan atau meluruskan pendapat anak yang keliru sehingga anak lebih terarah.
f. Disiplin
Penerapan disiplin juga menjadi bagian pola asuh, mulailah dari hal-hal kecil dan sederhana. Misal, membereskan kamar sebelum berangkat sekolah anak juga perlu diajarkan membuat jadwal harian sehingga bisa lebih teratur dan efektif mengelola kegiatannya. Namun penerapan disiplin mesti fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan / kondisi anak.
g. Orang tua konsisten
Orang tua juga bisa menerapkan konsistensi sikap, misalnya anak tidak boleh minum air dingin kalau sedang terserang batuk, tapi kalau anak dalam keadaan sehat ya boleh-boleh saja. Dari situ ia belajar untuk konsisten terhadap sesuatu, sebaliknya orang tua juga harus konsisten, jangan sampai lain kata dengan perbuatan (Theresia S. Indira, 2008).
Faktor Utama yang Mempengaruhi Pola Asuh
a. Budaya
Orang tua mempertahankan konsep tradisional mengenai peran orang tua merasa bahwa orang tua mereka berhasil mendidik mereka dengan baik, maka mereka menggunakan teknik yang serupa dalam mendidik anak asuh mereka.b. Pendidikan Orang Tua
Orang tua yang memiliki pengetahuan lebih banyak dalam mengasuh anak, maka akan mengerti kebutuhan anak.
c. Status Sosial Ekonomi
Orang tua dari kelas menengah rendah cenderung lebih keras/lebih permisif dalam mengasuh anak (Hurlock, E,B 2002).

Pemeriksaan Psikologi untuk Siswa Sekolah Tingkat Menengah (SMP), Seleksi Penerimaan Siswa Baru, Penempatan Siswa Kelas Akselerasi, Pemetaan Potensi Siswa

0 komentar


a.    Mendeteksi sejauh mana prestasi yang sanggup dicapai oleh siswa sesuai dengan potensinya.
b.    Pemetaan potensi diri (mengukur potensi individu yang dilihat dari berbagai aspek, baik kapasitas intelektual, minat dan bakat, motivasi dll yang dapat mempengaruhi prestasi akademik siswa) sehingga pengembangannya dapat lebih optimal.
c.    Memotivasi siswa untuk terus mengembangkan kemampuan diri.

  1. Mengetahui arah minat yang dimiliki siswa sehingga siswa tidak mengalami hambatan dalam belajar dan mampu berprestasi di sekolah.
b.    Membantu memberikan informasi tentang pengembangan siswa ke depan, khususnya dalam penempatan kelas sesuai dengan potensi dan kemampuannya ataupun untuk informasi pendidikan lanjutan berikutnya.
c.    Memberikan saran-saran pengembangan untuk aspek-aspek yang masih belum muncul namun diharapkan dapat tampil saat mengikuti pendidikan di sekolah.

3.    Program

·         Penerimaan Siswa Baru
·         Pemetaan Potensi Siswa
·         Penempatan Siswa Kelas Akselerasi *proposal terpisah

KONTAK :

Arief 
Tlp. 0852-11000-200
episentrum@episentrum.com

Selasa, 28 Oktober 2014

Pemeriksaan Psikologi untuk Siswa Sekolah Tingkat Atas (SMA), Seleksi Penerimaan Siswa Baru dan Penjurusan Program Studi Siswa SMA

0 komentar



Potensi siswa dapat diketahui melalui suatu pemeriksaan psikologi  untuk mendapatkan data, diantaranya adalah aspek-aspek intelektual dan kepribadian. Aspek yang menonjol dan yang kurang menonjol dianalisis, sehingga diperoleh profil kepribadian dari setiap siswa. Pemahaman guru terhadap potensi dari masing-masing siswa sangat penting untuk menentukan aktivitas dalam pembelajaran. Dalam banyak kasus didapati bahwa kegagalan siswa dalam meraih cita-citanya bukan disebabkan karena ia tidak memiliki kemampuan melainkan karena belum mengetahui potensi diri yang sebenarnya sehingga tidak tepat dalam menentukan langkahnya.
Menyikapi hal tersebut, Lembaga Psikologi Episentrum hadir menawarkan PROGRAM PEMERIKSAAN PSIKOLOGI SISWA yang akan membantu pihak sekolah yang Bapak/Ibu pimpin untuk menemukan potensi diri siswa, serta memberikan pengarahan sesuai dengan potensi yang dimiliki.
Tes ini dimaksudkan untuk mengungkap tingkat kecerdasan yang dimiliki siswa dikaitkan dengan minat dan kemampuan dasar secara global dalam bidang yang sesuai dengan jurusan atau program yang terdapat di sekolah. Dengan demikian, potensi yang dimiliki siswa dapat dibandingkan dengan prestasi yang dicapai secara wajar.
Jika terjadi ketidaksesuaian antara potensi yang dimiliki siswa dengan prestasi yang dicapainya, maka hal ini dapat segera diidentifikasi penyebabnya dan dapat segera dicari solusinya dengan tepat.Dengan demikian baik siswa, guru dan orangtua dapat menentukan langkah-langkah yang tepat dalam mengoptimalkan potensi dan mencapai prestasi semaksimal mungkin.

a.    Mendeteksi sejauh mana prestasi yang sanggup dicapai oleh siswa sesuai dengan potensinya.
b.    Pemetaan potensi diri (mengukur potensi individu yang dilihat dari berbagai aspek, baik kapasitas intelektual, minat dan bakat, motivasi dll yang dapat mempengaruhi prestasi akademik siswa) sehingga pengembangannya dapat lebih optimal.
c.    Memotivasi siswa untuk terus mengembangkan kemampuan diri.

  1. Mengetahui potensi yang dimiliki oleh setiap siswa baik dalam bidang eksakta maupun sosial sehingga dapat disesuaikan antara potensi yang dimiliki dengan minat yang ada dalam memilih jurusan / program yang disediakan di sekolah.
  2. Mengetahui arah minat yang dimiliki siswa sehingga siswa tidak mengalami hambatan dalam belajar dan mampu berprestasi di sekolah.
c.    Membantu memberikan informasi tentang pengembangan siswa ke depan, khususnya dalam penempatan kelas sesuai dengan potensi dan kemampuannya ataupun untuk informasi pendidikan lanjutan pada jenjang berikutnya yaitu akademi/universitas.
d.    Memberikan saran-saran pengembangan untuk aspek-aspek yang masih belum muncul namun diharapkan dapat tampil saat mengikuti pendidikan di sekolah.



4.    Program

·         Penerimaan Siswa Baru
·         Penempatan Siswa Kelas Akselerasi
·         Psikotes bagi siswa Kelas X (Sepuluh) :
Untuk menentukan penjurusan program studi IPA/IPS
·         Psikotes bagi siswa Kelas XII (Duabelas) :
Untuk menentukan studi lanjutan di perguruan tinggi berikut fakultas dan jurusannya.
·         Psikotes Khusus
Kami menerima pelaksanaan psikotes dengan tujuan tertentu berdasarkan permintaan dan kebutuhan klien.

KONTAK :

Arief 
Tlp. 0852-11000-200
episentrum@episentrum.com
 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com